Nama : Siti Fadillah
Npm : 17212049
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen : Yanti Trianita
1. Jelaskan
definisi penalaran dan sebutkan jenisnya !
Penalaran mempunyai beberapa
pengertian, yaitu :
- Proses berpikir yang logis, sistematis, terorganisasi dalam
urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
- Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu
simpulan.
- Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu
simpulan atau pengertian baru.
- Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih,
penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan
menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilakan suatu derajat
hubungan dan simpulan.
- Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan
yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.
Pengertian penalaran adalah suatu proses berpikir yang logis
dengan berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Fakta adalah kenyataan yang dapat diukur dan dikenali. Untuk dapat bernalar,
kita harus mengenali fakta dengan baik dan benar. Fakta dapat dikenali melalui
pengamatan, yaitu kegiatan yang menggunakan paca indera melihat, mendengar,
membaui, meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung,
mengukur, menaksir, memberikan cirri-ciri, menklasifikasikan dan
menghubung-hubungkan. Orang
akan menerima fakta yang benar dan tentu saja akan menolak fakta yang belum
jelas kebenarannya. Fakta yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk
mencapai satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan.
Menurut sumber
lain menyebutkan, penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk
memperoleh kesimpulan/pengetahuan yang dapat bersifat ilmiah dan tidak ilmiah.
Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur
untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktivitas
berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran.
Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan
keyakinan seseorang, karena penalaran memdidik manusia bersikap objektif,
tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.
Penalaran terdapat 2 jenis, yaitu :
Penalaran Induktif (prosesnya disebut induksi): Proses berpikir logis yang diawali dengan obsevarsi data,
pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umum. Kesimpulan ini
dapat berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum atas fakta yang bersifat
khusus. Dengan
kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan
(premis). Penalaran induktif pada dasarnya
terdiri dari tiga macam:
- Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan
atas sejumlah gejala (data) yang bersifat khusus, serupa, atau sejenis yang
disusun secara logis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum. Benar atau
tidaknya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal yang berikut
:
- Data itu harus
memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, makin benar simpulan yang
diperoleh.
- Data itu harus
mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang
benar.
- Pengecualian
perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat
dijadikan data.
- Analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan
terhadap gejala khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang
sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai
dengan kesimpulan yang berlaku umum. Analogi merupakan cara penarikan
pernalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Tujuan
pernalaran dengan analogi adalah sebagai berikut:
- Analogi
dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
- Analogi
digunakan untuk menyingkapkan kekeliruan.
- Analogi
digunakan untuk menyusun klasifikasi.
- Hubungan kausal
(sebab akibat) adalah
pernalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Proses penalaran berdasarkan hubungan ketergabungan antargejala
yang mengikuti pola:
- sebab-akibat. Dimulai dengan pengamatan terhadap suatu yang diketahui,
untuk menarik kesimpulan mengenai akibat yang mungkin ditimbulkan.
- akibat-sebab. Dimulai dari suatu akibat yang diketahui, kemudian dipikirkan
apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Penalaran ini bersifat expost facto (hal yang sudah terjadi).
- akibat-akibat. Berpangkal dari suatu akibat dan langsung dipikirkan akibat
lain tanpa memikirkan sebab umum yang menimbulkan kedua akibat itu.
Penalaran Deduktif : Proses berpikir logis yang diawali
dengan penyajian fakta yang bersifat umum, disertai pembuktian khusus, dan
diakhiri simpulan khusus yang berupa prinsip, sikap, atau fakta yang berlaku
khusus. Jika kita mengetahui S(simpulan), sedangkan P(premis) adalah bagian
dari S(simpulan), maka dapat ditarik kesimpulan tentang P(premis). Penarikan
kesimpulan dengan cara deduktif tidak menghasilkan pengertahuan baru, karena
kesimpulannya telah tersirat pada premisnya. Penarikan simpulan (konklusi)
secara deduktif dapat dilakukan secara:
- Langsung. Simpulan
(konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis.
- Tak langsung. Simpulan secara
tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan
dihasilkan sebuah simpulan Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum
dan premis yang kedua adalah adalah premis yang bersifat khusus. Untuk menarik
simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan
dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu.
2. Jelaskan
definisi proposisi dan berikan contohnya
!
Proporsi
adalah kalimat yang berisi pernyataan tentang hubungan fakta-fakta dapat
dipergunakan sebagai data. Pernyataan dapat benar dan salah, jadi proporsi
dapat dibatasi sebagai kalimat yang mengandung pernyataan tentang hubungan
fakta-fakta yang dapat dinilai benar dan salah. Dalam berpikir proporsi, merupakan
unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna. Dalam penalaran,
proporsi disebut juga premis, dengan menggunakan premis dan penalaran yang baik
aka menghasilkan kesimpulan yang benar.
Contoh:
Bahasa adalah sarana penalaran
Sifat kuantitatif matematika meningkatkan daya
prediksi ilmu.
Proposisi dapat dipandang dari 4
kriteria, yaitu berdasarkan bentuknya, sifatnya, kualitasnya, dan kuantitasnya.
- Berdasarkan bentuknya, proposisi dapat
dibagi atas proposisi tunggal dan proposisi majemuk.
1. Proposisi tunggal hanya mengandung satu
pernyataan.
Contoh:
Semua
petani harus bekerja keras.
Setiap
pemuda adalah calon pemimpin.
2. Proposisi majemuk mengandung lebih dari
satu pernyataan.
Contoh:
Semua
petani harus bekerja keras dan hemat.
- Berdasarkan sifatnya, proposisi dapat
dibagi atas proposisi kategorial dan proposisi kondisional.
1. Dalam proposisi kategorial, hubungan
antara subjek dan predikat terjadi dengan tanpa syarat.
Contoh:
Semua bemo beroda tiga.
Sebagian binatang tidak berekor.
2. Dalam proposisi kondisional, hubungan
antara subjek dan predikat terjadi dengan suatu syarat tertentu. Syarat itu
harus dipenuhi atau diingat sebelum peristiwa dapat berlangsung.
Contoh:
Jika air tidak
ada, manusia akan kehausan.
- Berdasarkan kualitas, proposisi dapat
dibagi atas proposisi positif (afirmatif) dan proposisi negatif.
1. Proposisi positif (afirmatif) adalah
proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antara subjek dan
predikat.
Contoh:
Semua dokter adalah orang pintar.
Sebagian manusia adalah bersifat sosial.
2. Proposisi negatif adalah proposisi
subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan. Dengan kata lain, proposisi
negatif meniadakan hubungan antara subjek dan predikat.
Contoh:
Semua harimau bukanlah singa.
Sebagian orang jompo tidaklah pelupa.
- Berdasarkan kuantitasnya, proposisi
dapat dibagi atas proposisi universal (umum) dan proposisi khusus.
1. Pada proposisi universal (umum),
predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjeknya.
Contoh:
Semua dokter adalah orang pintar.
Tidak seorang dokter pun adalah orang
yang tak pintar.
Semua gajah bukanlah kera.
Tidak seekor gajah pun adalah kera.
Kata-kata yang dapat membantu
menciptakan proposisi unversal ini ialah
a) unversal afirmatif: semua, setiap,
tiap, masing-masing, apapun.
b) universal negatif: tidak satu pun, takseorang pun.
2. Pada proposisi khusus, predikat hanya
membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
Sebagian mahasiswa gemar olahraga.
Tidak semua mahasiswa pandai bernyanyi.
Sebagian Pulau Jawa adalah Jawa Barat.
Tidak semua Pulau Jawa adalah Jawa Barat.
Kata-kata yang dapat membantu
menciptakan prorposisi khusus ialah kata sebagian, banyak, beberapa, sering,
kadang-kadang, dalam keadaan tertentu.
3. Jelaskan
definisi silogisme ! sebutkan jenis dan contohnya !
Silogisme merupakan bentuk penalaran deduktif yang bersifat formal. Silogisme
adalah cara berpikir formal, yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kita
menemukan polanya saja, misalnya ia dihukum karena melanggar peraturan X, jika
sebenarnya dibentuk secara formal, yaitu :
Semua yang melanggar peraturan X akan
dihukum.
Ia melanggar peraturan X.
Ia dihukum.
Jika dalam penarikan kesimpulan secara
deduktif, silogisme termasuk kedalam penarikan kesimpulan secara tidak
langsung. Dalam penerapannya terdapat 3 jenis silogisme, yaitu:
Silogisme Kategorial
Silogisme
kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi
merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat
umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis
minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut
term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh
:
Semua
manusia bijaksana.
Semua
polisi adalah manusia.
Jadi,
semua polisi bijaksana.
Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas
premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis.
Contoh :
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.
Silogisme
Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas
premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan
salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh :
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang profesor.
Sumber
Arifin, Zaenal
dan Amran Tasai. 2004. Cermat Berbahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Rahayu, Minto.
2007. Bahasa Indonesia di Perguruan
Tinggi. Jakarta: Grasindo
Widjono, Hs.
2007. Bahasa Indonesia Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. edisi revisi. Jakarta:
Grasindo.